Labels

Selasa, 17 April 2012

BPR, Motor Penggerak Penyelamat Ekonomi

Pimpinan Talago Batuah Group bersama Kepala BPR / BANK Kerinci
ANDA Anda Ingin Menabung...? Hubungi kantor kami. Kami akan segera melayani Anda. Tidak menunggu besok...! Di sisi lain ada pesan bijak berbunyi: menabung waktu muda untuk dibelanjakan pada hari tua. Menabung selagi punya untuk dibelanjakan pada hari susah...! Menanti simpanan Anda dengan bunga menarik.

DEMIKIAN umumnya tertulis pada brosur-brosur sebuah lembaga perkreditan rakyat di Negeri ini, yang disebarkan ke rumah-rumah penduduk sebuah kompleks perumahan. Sederhana serta tercetak dengan tinta hitam dan merah di atas kertas HVS. Begitulah lembaga perkreditan rakyat mencari nasabah. Sangat jauh dari gebyar mewah bank-bank besar beraset triliunan rupiah dengan hadiah ratusan miliar rupiah. Banyak orang yang melirik lembaga ini pun langsung alergi. Padahal, tak terhitung jumlahnya orang yang tertolong dan pengusaha yang terselamatkan. Bahkan, tidak sedikit pengusaha kecil menjadi besar dengan omzet miliaran rupiah karena memulai usahanya dengan bermitra bersama lembaga perkreditan rakyat.

"Pada tahun 2010, kami merasa harus mengembangkan bisnis, tetapi tidak memiliki modal yang cukup. Syukurlah ada BPR Difobutama sehingga kami mendapat pinjaman dalam waktu yang singkat dan dengan agunan yang tidak berat. Ketika itu kami menyerahkan BPKB mobil. Dalam waktu dua hari saya mendapat pinjaman dan lambat laun usaha kami semakin berkembang," kata salah satu nasabah, saat mengisahkan perjalanan bisnis keluarganya.

UNTUK mendapatkan

nasabah, setiap BPR memiliki divisi pemasaran yang selalu berkeliling ke pasar, sentra industri kecil, dan permukiman, terutama untuk menjangkau warung dan toko. Dengan mengendarai sepeda motor, staf pemasaran menawarkan pinjaman, mengambil cicilan, dan mengumpulkan tabungan. Para staf tersebut yang menjadi ujung tombak BPR untuk menjaga hubungan dengan para nasabah mereka.

Dengan sistem jemput bola, para nasabah akan merasa mudah melakukan transaksi perbankan tanpa harus datang ke bank. Sistem itu yang membuat mereka lebih memilih BPR daripada bank umum dalam pengambilan pinjaman. Selain itu, BPR juga menerapkan syarat yang longgar dan proses yang mudah bagi para nasabahnya untuk mengambil kredit.

Mayoritas nasabah BPR tersebut merupakan pedagang kecil, penjual makanan keliling, dan pemilik warung-warung kelontong yang tidak membutuhkan dana besar untuk meningkatkan usaha mereka. Para nasabah dapat mencicil pinjaman mereka secara harian atau mingguan melalui tenaga pemasaran yang berkeliling, tetapi cicilan itu akan diakumulasikan dalam bentuk tabungan .

Setiap nasabah akan mengambil pinjaman, BPR menilai kelayakan usaha mereka terlebih dahulu. Penilaian itu didasarkan pada kemungkinan usaha itu tumbuh dan menghasilkan laba yang memadai. Semakin baik prospek usaha yang akan dikembangkan, semakin mudah BPR memberikan kredit.

JENIS pinjaman juga disesuaikan dengan besaran omzet BPR. Bagi BPR yang memiliki omzet di bawah Rp 2 miliar, proporsi kredit produksi jauh lebih tinggi daripada kredit konsumsi. Kredit produksi, menurut dapat menjamin tingkat pengembalian dan kelancaran cicilan. Para pengusaha kecil dan mikro akan serius dalam menjalankan usaha mereka jika mendapat pinjaman dari BPR.

Bagi BPR yang memiliki omzet di atas Rp 2 miliar, proporsi kredit konsumsi akan relatif seimbang dengan kredit produksi. Pengelolaan kredit konsumsi memerlukan biaya operasional yang lebih rendah daripada kredit produksi. Kerja sama yang baik dengan kepala dan bendahara suatu instansi pemerintah atau swasta dapat memudahkan proses penawaran, pengurusan, dan penarikan cicilan kredit.

Namun, bank umum mempunyai kewajiban untuk menyalurkan kredit ke pengusaha kecil dan mikro (PKM) sesuai kebijakan yang dikeluarkan Bank Indonesia.  ketersediaan dana kredit untuk PKM dan ketidakmampuan bank umum menyalurkan kredit itu menyebabkan kemacetan dana dan kelambanan pembangunan.

Oleh karena itu dimengharapkan pemerintah menciptakan strategi besar yang melibatkan bank umum, BPR, dan lembaga kredit mikro (LKM) dalam sebuah program yang terintegrasi. Dalam program itu, dana bank umum yang dialokasikan untuk kredit bagi PKM dapat disalurkan sebagai pinjaman kepada BPR dan LKM dengan bunga yang lebih rendah daripada bunga komersial, rasio pinjaman dan agunan yang lebih besar, dan kemudahan proses peminjaman.

Penyaluran dana melalui BPR dan LKM dengan disertai peningkatan sumber daya manusia PKM diharapkan dapat menggairahkan sektor riil dan meningkatkan kemampuan kompetisi para pelaku ekonomi. Semakin besar dana yang dapat diserap para pengusaha, semakin besar efek multiplier yang terjadi. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak hanya bergantung pada konsumsi, tetapi juga kepada aktivitas ekonomi produktif.

Yan Salam Wahab

0 komentar:

Posting Komentar

KLIK BENDERA UNTUK MENGALIHKAN BAHASA
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified